Pasangan mulai berubah? Mungkin ini alasannya
Setelah hidup bersama selama bertahun-tahun, Anda pasti bisa membaca sikap atau tingkah laku kebiasaan pasangan Anda dan begitu pula sebaliknya. Karenanya, saat suami memperlihatkan tanda-tanda perubahan Anda pasti akan langsung mengetahuinya. Apa alasannya? Mungkin Anda bisa mengenali beberapa di bawah ini.

Bosan

Rasa bosan sering dialami setiap orang. Ketika rasa bosan melanda, seseorang bisa jadi menunjukkan perubahan. Kebanyakan orang yang sedang bosan menjadi pendiam dan malas untuk melakukan apa-apa. Seakan tidak semangat menjalani kehidupan.

Tidak puas dalam pernikahan

Seseorang mengalami ketidakpuasan dalam pernikahan karena banyak alasan. Alasan terbesarnya seringkali karena pelayanan dari pasangannya yang dirasa tidak cukup. Bisa jadi dia berubah karena merasa Anda tidak melayaninya dengan baik, kurang perhatian atau cuek dan suka marah-marah padahal dia sudah mengerahkan seluruh hidupnya untuk memberikan kepuasan bagi Anda dan keluarga. Kekecewaan inilah dapat membuatnya merasa tidak puas dengan pernikahan yang dijalaninya.

Tidak merasa dihargai

Segala usaha dan kerja keras yang dilakukannya tidak pernah dihargai, baik oleh atasan, istri maupun anak-anaknya sendiri. Hal ini dapat membuat sikapnya berubah pula.

Stres pekerjaan

Seseorang yang tertekan biasanya jiwanya ikut tergoncang dan menjadi labil. Kegalauan yang membebani pikirannya bisa jadi karena pekerjaan di kantor. Jika dia tertekan karena pekerjaan, jangan lagi menambah bebannnya dengan menyuruhnya ini dan itu. Ini hanya akan membuat sikapnya semakin berubah terhadap Anda.

Keuangan yang tidak teratur

Mungkin karena buruknya manejemen keuangan keluarga akibat keborosan Anda yang membuatnya merasa tidak pernah bisa cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan dia harus selalu membayar utang karena Anda begitu boros dalam menghabiskan uang demi hal-hal yang tidak penting.

Tidak bergairah

Hubungan suami istri adalah bagian terpenting dalam pernikahan. Jika tidak berjalan dengan baik, kondisi ini juga dapat mempengaruhi kualitas hubungan Anda. Ini pun dapat menjadi alasan mengapa sikap dia mulai berubah terhadap Anda. Karena dia tak lagi merasa bergairah di atas ranjang bersama Anda.

Godaan wanita lain

Berhati-hatilah dengan yang satu ini. Di luar sana ada begitu banyak wanita yang siap menggoda suami Anda. Apalagi jika Anda tidak cukup membuatnya bahagia. Dia bisa saja berubah karena tergoda dengan wanita lain yang jauh lebih baik dari Anda.

Ketika mendeteksi perubahan pada pasangan Anda, jangan langsung menyepelekannya dan jangan pula menyalahkannya. Perubahannya bisa saja justru disebabkan oleh Anda sendiri. Segera komunikasikan, apalagi saat sudah mempengaruhi kualitas pernikahan Anda yang dapat berujung pada kehancuran pernikahan. Mulailah memperbaiki keadaan termasuk mengubah diri Anda menjadi menjadi istri idaman yang terbaik bagi dirinya.

Sumber : keluarga.com
Rahasia Suami Betah Di Rumah

Untuk menciptakan hubungan yang kuat, Anda harus menjadi komunikator handal. Sebagai tambahan, Anda membutuhkan rasa hormat, rasa sayang, rasa kepedulian, perhatian dan pemahaman satu dengan yang lain. Hidup bersama berarti memberi dan menerima, juga berkompromi. Anda harus berusaha mencapai kesempatan bahwa Anda berdua harus rela menghilangkan satu atau dua kebiasaan yang kerap menjengkelkan. Hal ini akan membebaskan Anda dari situasi-situasi menekan yang dapat menghantui pernikahan dan membantu Anda belajar hidup bersama dengan bahagia.

Berikut trik yang bisa dipraktekkan para istri agar suaminya merasa nyaman dan berada dalam rumah.

1. Ketahui kegiatan atau hobi yang disukai pasangan. 
Kumpulkan informasi tentang hobinya itu dan ikutlah bersamanya menikmati aktivitas tersebut. Lama-lama Anda akan tertarik dengan kegiatan itu.

2. Jagalah kenyamanan suami sepulang dia bekerja. 
Berikan dia waktu sejenak melepaskan kepenatan setelah seharian bekerja. Sambutlah dengan wajah tersenyum dan jangan membrondongnya dengan pertanyaan atau masalah apa pun. Pilih waktu yang tepat untuk membicarakan topik apa pun.

3. Menjaga ketepatan waktu 
Buat suami merasa Anda sangat menjaga ketepatan waktu ketika menghidangkan makanan atau minuman kegemaran. Ini akan membuat dia merasa diperhatikan. Lain waktu dia akan membalasnya.

4. Kunjungi Keluarga 
Jika suami termasuk tipe pria yang dekat dengan keluarganya dan sering mengunjungi mereka, sesekali undanglah keluarganya ke rumah Anda.

5. Perhatikan penampilan
Luangkan waktu untuk memperhatikan penampilan dan dandanan Anda.

6. Ungkapkan rasa sayang 
Setiap kali ada kesempatan, ungkapkan rasa sayang Anda pada pasangan. Ulangi dari waktu ke waktu. Meskipun Anda tidak mendapatkan tanggapan yang jelas darinya pada pertama kali, dengan seringnya Anda mengungkapkan hal tersebut, dia pun akan semakin mengungkapkan perasaannya terhadap Anda.

7. Perhatikan kebersihan dan kerapian rumah
Mintalah bantuan suami dengan penuh penghargaan untuk bersikap disiplin dan rapi. Misalnya dengan memintanya mengembalikan perkakas yang sudah digunakannya ke tempat semula.

8. Jaga rahasia 
Jangan biarkan siapa pun mengetahui permasalahan atau perselisihan yang terjadi di antara Anda berdua, terutama kepada keluarga dekat atau teman dekat. Dengan begitu, suami akan berpikir bahwa tempat yang sekarang Anda huni berdua dengannya adalah benteng yang kokoh bagi segala rahasia sehingga dia akan merasa aman dan betah tinggal di dalamnya.

9. Bersikap tenang 
Jika suami sedang emosi, usahakan tetap bersikap tenang dan tidak membalasnya, tapi di saat yang sama jangan juga mengabaikannya. Berikan dia waktu untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Jika di waktu mendatang memang terbukti dia yang benar maka segeralah minta maaf. Sebaliknya bila dia yang salah, segera jelaskan situasi yang ada dengan tenang tanpa bersikap menyalahkan dan beri dia kesempatan berbicara.

10. Hindari memberi kritik terhadap suami 
Walaupun dia melakukan tindakan yang membuat Anda merasa kurang nyaman. Ubahlah perilaku tersebut dengan cara yang cerdas tanpa dia sadari. Lebih baik beritahu dia cara-cara yang menurut Anda cocok dan belajarlah bagaimana menjauhi tindakan yang bisa mengundang kritikan dari suami.

11. Tunjukkan perhatian Anda padanya secara pribadi 
Dengan cara memperhatikan penampilannya, pakaian yang digemari, atau parfumnya. Usahakan agar dia selalu keluar rumah dalam keadaan yang bersih. Hal ini akan membuatnya menjadi terbiasa bersih ketika sedang berada di dalam rumah.

12. Usahakan jangan sering beranjak tidur duluan sebelum suami
Susun ulang jadwal harian Anda sehingga Anda bisa menikmati malam bersamanya.

13. Pilihlah salah satu tindakan suami yang membuat Anda bahagia
Beritahukan hal ini padanya dan tunjukkan betapa gembiranya Anda. Percaya saja nantinya dia akan mengulanginya lagi secara otomatis.

14. Jangan perberat bebannya 
Bersemangatlah membuat suami merasa kalau Anda tetap akan berdiri di sampingnya dalam segala kondisi, sekalipun yang tersulit. Jangan perberat bebannya dengan tuntutan demi tuntutan. Sebisa mungkin jadilah istri yang pandai mengatur rumah tangga hingga Anda akan meraih kepercayaan lebih darinya.

15. Tunjukkan keramahan Anda
Di hadapan suami ketika kedatangan tamunya meski sebenarnya Anda kurang menyukai orang tersebut dan kurang nyaman dengan kehadirannya.

Semoga bermanfaat kiki emotikon
Menikah dengan Keluarga Dekat, Bolehkah?

MENIKAH adalah kewajiban bagi setiap insan. Dengan melangsungkan pernikahan, yang menandakan bersatunya dua insan yang berbeda, akan mewujudkan suatu keluarga. Di sanalah aktivitas kehidupan mulai lebih terasa. Karena, berawal dari dua insan tersebut, maka terciptalah insan-insan lain penerus kehidupan.

Rasa cinta muncul secara tiba-tiba. Tidak mengenal batasan waktu maupun tempat. Dan terkadang rasa cinta itu merujuk pada orang yang tidak pula diprediksikan sebelumnya. Seperti halnya, pada keluarga dekatnya sendiri. Lalu, apakah boleh jika melangsungkan pernikahan dengan keluarga dekat?

Rasulullah SAW menasihati kita agar menikah dengan wanita yang bukan dari keluarga dekat. Beliau bersabda, “Kawinlah dengan keluarga jauh, agar tidak lemah.” Istri dari keluarga dekat dapat menghasilkan keturunan yang lemah. Tapi, jika dari keluarga jauh dapat menghasilkan keturunan yang lebih kuat.

Dalam percobaan terhadap tumbuh-tumbuhan, ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa penyilangan dua jenis bibit yang berbeda memberikan hasil yang lebih baik (unggul). Maka dari itu, untuk mendapat keturunan yang kuat, agama melarang menikahi saudara dekat, yaitu ibu, bibi, anak atau kemenakan.

Banyak kita lihat, pernikahan dengan keluarga dekat berakibat hal-hal yang negatif dari kedua orang tua dapat terkumpul pada anak-anaknya.

Sebaiknya, perkawinan dengan keluarga jauh yang menurun kepada anak justr hal positif dari kedua suami-istri tersebut. Hal-hal positif itu adalah sifat-sifat baik, kecerdasan, kekuatan mental dan fisik. [Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani]
Hak Seorang Ibu terhadap Anak Laki-lakinya.. Yang Belum Tau Baca Yaa...


MEMBANGUN keluarga sakinah merupakan dambaan kita semua. Dasarnya adalah masing-masing anggota keluarga tersebut harus bertaqwa. Salah satu manifestasi taqwa ialah berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain). Perlu disadari, bahwa pernikahan itu bukan hanya ikatan 2 orang anak manusia, tetapi mengikat 2 keluarga besar.

Jadi pernikahan itu merupakan risalah agung membentuk ukhuwah yang luas yang dasarnya saling kenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menolong (tafakul) antara suami-istri, keluarga suami dan keluarga istri. Bila masing-masing pihak ridha, maka nilai pernikahan yang sakinah serta diridhai orang tua akan terwujud.

Sebelum menikah, seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kewajiban yang besar kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibundanya. Bila seorang anak laki-laki yang telah menikah, maka kewajiban berbakti kepada ibu ini tidak hilang, jadi suami adalah hak ibunda.

Bagaimana dengan anak perempuan yang telah menikah? Nah, bagi anak perempuan yang telah menikah, maka haknya suami. Jadi istri berkewajiban berbakti pada suami. Karena setelah Ijab kabul, berpindahlah hak dan kewajiban seorang ayah kepada suami dari anak wanitanya. Begitu besar kewajiban berbakti pada suami, sampai rasul pernah bersabda, “Bila boleh sesama manusia mengabdi (menyembah), maka aku akan menyuruh seorang istri mengabdi pada suaminya.”

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Ada seseorang yang datang, disebutkan namanya Muawiyah bin Haydah r.a., bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah saw: “Ibumu.” Dengan diulang tiga kali pertanyaan dan jawaban ini.

Pengulangan kata “ibu” sampai tiga kali menunjukkan bahwa ibu lebih berhak atas anaknya dengan bagian yang lebih lengkap, seperti al-bir (kebajikan), ihsan (pelayanan). Ibnu Al-Baththal mengatakan:

“Bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya. Karena kata ‘ayah’ dalam hadits disebutkan sekali sedangkan kata ‘ibu’ diulang sampai tiga kali. Hal ini bisa dipahami dari kerepotan ketika hamil, melahirkan, menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan.

Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah swt., “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun –selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun–, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Allah swt. menyamakan keduanya dalam berwasiat, namun mengkhususkan ibu dengan tiga hal yang telah disebutkan di atas.

Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad, demikian juga Ibnu Majah, Al Hakim, dan menshahihkannya dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesunguhnya Allah swt. telah berwasiat kepada kalian tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ayah kalian, kemudian berwasiat tentang kerabat dari yang terdekat.”

Hal ini memberikan kesan untuk memprioritaskan kerabat yang didekatkan dari sisi kedua orang tua daripada yang didekatkan dengan satu sisi saja. Memprioritaskan kerabat yang ada hubungan mahram daripada yang tidak ada hubungan mahram, kemudian hubungan pernikahan. Ibnu Baththal menunjukkan bahwa urutan itu tidak memungkinkan memberikan kebaikan sekaligus kepada keseluruhan kerabat.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran tentang ibu yang lebih diprioritaskan dalam berbuat kebaikan dari pada ayah. Hal ini dikuatkan oleh hadits Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Aisyah r.a. berkata:

“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.”

Demikian juga yang diriwayatkan Al-Hakim dan Abu Daud dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa ada seorang wanita yang bertanya:

“Ya Rasulallah, sesungguhnya anak laki-lakiku ini, perutku pernah menjadi tempatnya, air susuku pernah menjadi minumannya, pangkuanku pernah menjadi pelipurnya. Dan sesungguhnya ayahnya menceraikanku, dan hendak mencabutnya dariku.” Rasulullah saw. bersabda, “Kamu lebih berhak daripada ayahnya, selama kamu belum menikah.”

Maksudnya menikah dengan lelaki lain, bukan ayahnya, maka wanita itu yang meneruskan pengasuhannya, karena ialah yang lebih spesifik dengan anaknya, lebih berhak baginya karena kekhususannya ketika hamil, melahirkan dan menyusui. [ukhuwah]
Baru Nikah, Suami Tuntut Rp270 Juta Karena Tak Terima Wajah Asli Sang Istri

Make-up memang berfungsi mempercantik wajah dan penampilan.

Namun seorang pengantin pria di Aljazair justru trauma akibat make-up.

Sebab, wanita cantik bermake-up yang telah ia nikahi membuatnya syok setelah menunjukkan muka asli.

Dilansir The Daily Mirror, pria yang tidak disebutkan namanya itu tak pernah melihat wanita tersebut tanpa riasan.

Saat hari pernikahan pun penampilannya sangat cantik.

Namun usai pesta, dan sang istri menunjukkan wajah asli di kamar, pria itu seakan tak percaya apa yang dia lihat.

Bahkan awalnya dia menyangka wanita itu adalah 'pencuri yang datang untuk mengambil barang-barang di apartemennya.'

Sebuah sumber menyebutkan pada Emirates 247, bahwa pria tersebut mengatakan pada hakim bahwa dia sampai tidak mengenali wajah istrinya setelah wanita itu menghapus riasan di wajah.

"Dia mengatakan kena tipu karena wajah wanita itu selalu memakai make-up saat sebelum menikah," papar sumber.

Katanya, wanita itu tampak cantik dan menarik sebelum pernikahan mereka.

Tapi ketika dia bangun di pagi hari dan menemukan istrinya sudah membersihkan wajah dari make-up, pria itu ketakutan karena menyangka wanita tersebut adalah pencuri

Merasa tertipu, pengantin pria menuntut ganti rugi sekitar Rp270 juta atas 'penderitaan psikologis.'
Tidak Mendapatkan Anak di Dunia, Allah Menyiapkannya di Surga





MEMPUNYAI seorang anak merupakan dambaan setiap orang tua. Siapa yang tak mau mempunyai anak yang lucu dan menggemaskan? Tentunya setiap orang menginginkan rumahnya ramai dengan kehadiran seorang anak.

Namun terkadang buah hati yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir. Bahkan bertahun-tahun menunggu ia tetap belum Allah takdirkan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Ketika hal ini terjadi, janganlah bersedih wahai ibu dan ayah. Sesungguhnya Allah hendak menguji kecintaan hamba terhadapNya.

Ketika Allah tidak menghendaki buah hati hadir di tengah-tengah kita saat ini. Sesungguhnya Allah telah menyiapkannya di surga kelak. .

Dalam suatu riwayat Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (Shahih Al-Jami’, 6649).

Al-Manawi menjelaskan pula dalam Faidhul Qadir bahwa, “Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits Al-Uqaili dengan sanad shahih “Sesungguhnya di surga itu tidak ada anak kecil.” Karena itu, bagi orang yang tidak menginginkannya, ia tidak akan melahirkan anak, namun apabila seseorang menginginkan anak maka akan seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.”

Disebutkan dalam salah satu ayat dalam Al-Quran bahwa, “Dan di dalam surga itu terdapat apa-apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)

Dalam ayat tersebut jelas bahwa di surga kelak Allah akan memberikan apapun yang hambanya inginkan, termasuk seorang anak. Wallahualam. [hs/Islampos]

Sumber: Islam Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi/Karya: Syaikh Jamal Abdurrahman/Penerbit: Aqwam Jembatan Ilmu